A H I M S A

Kata ahimsa terdapat dalam buku-buku suci agama Hindu klasik Upanishad, Yoga Sutra dan Bhagavad Gita. Secara harfiah kata Sanskrit itu berarti ketiadaan gangguan, ketiadaan serangan atau ketiadaan kejahatan. Ahimsa adalah gaya hidup yang menjauhkan diri dari segala perbuatan yang menyakiti siapa pun atau merusak apa pun. Ahimsa adalah nazar asketis bagi orang yang mencari kebenaran dan kekudusan.

Setelah sekian abad kata ahimsa dipakai secara terbatas di kalangan agama Hindu, mendadak pada tahun 1920-an kata itu mencuat menjadi populer ke seluruh dunia. Yang memperkenalkan kata itu adalah Mahatma Gandhi. Kata itu diterjemahkan menjadi nonviolence atau nirkekerasan.

Apakah pemahaman Mahatman Gandhi tentang ahimsa? Mahatma Gandhi mengambil alih arti klasiknya lalu ia menambah dengan dimensi-dimensi baru. Dalam karangannya di Harijan ia menulis, “Ahimsa means love in the sense of Saint Paul, and much more”, artinya: Ahimsa berarti kasih menurut pengertian Rasul Paulus, dan banyak arti lainnya.

Pemikiran Gandhi itu berdampak bukan sekadar terhadap etimologi kata ahimsa, melainkan terhadap filsafat yang berada di baliknya. Gandhi memberi dimensi pada konsep ahimsa, dari konsep “janganlah kita menyakiti orang lain” menjadi konsep “hendaklah kita mengasihi orang lain”. Kalimat negatif diubah menjadi kalimat positif. Gandhi memberi dimensi ajaran Kristus pada konsep ahimsa tanpa meninggalkan substansinya yang terdapat dalam ajaran Hindu. Itu bukan berarti bahwa Gandhi menyamakan konsep ahimsa menurut agama Hindu dengan konsep kasih menurut agama Kristen. Yang diperbuat Gandhi adalah memperluas arti ahimsa. Gandhi yang menganut agama Hindu memang mempelajari dan menyukai Alkitab Perjanjian Baru, terutama Kitab-kitab Injil dan Surat-surat Paulus.

Ajaran Paulus yang tadi disebut oleh Gandhi adalah Nyanyian Kasih dalam Surat I Korintus 13, khususnya ayat 4-7, sebagai berikut :
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Terjemahan alternatif yang agak harfiah adalah lebih kurang sebagai berikut :

Kasih itu sabar (makrothumei=tahan amarah)
kasih itu berbuat baik
tidak iri
Kasih tidak membesarkan diri
tidak sombong (phusioutal=pongah, kasar)
tidak melakukan yang melewati batas
tidak mencari keinginan (ta heautes=kepentingan) sendiri
tidak cepat marah (parochunetal=cepat terhasut)
tidak menghitung kesalahan
tidak bergembira dengan kejahatan
melainkan bergembira dengan kebenaran.
Ia memikul segala sesuatu
mempercayai segala sesuatu
mengharapkan segala sesuatu
menanggung segala sesuatu.

Di sini terdapat 15 penjelasan tentang apa itu kasih. Perhatikan bahwa tidak ada satu pun yang berbentuk kata sifat. Semuanya berbentuk kata kerja. Artinya, kasih bukan sekadar perasaan, melainkan perbuatan. Kasih bukan pasif, melainkan aktif.

Nyanyian Kasih ini juga berstruktur didaktik kaitan pesan. Ada kalimat analogis, ada pula antalogis. Ada kalimat simetris dengan dua pesan positif, delapan pesan negatif lalu lima pesan positif lagi. Kemudian ada kalimat silang dengan dua pasang kata kerja sejajar yang bersilang, yaitu stegei (memikul) bersilang dengan hupomenei (menanggung) dan pisteuei (mempercayai) dengan epezei (mengharapkan). Pasal 13 dari Surat I Korintus ini memang mempunyai bentuk sastra yang mirip dengan bahan pelajaran Sastra Hikmat seperti Kitab Amsal yang sekarang ternyata sejalan dengan ilmu didaktik modern.

Nyanyian Kasih ini memang tidak identik dengan ahimsa atau nirkekerasan. Namun bukankah gaya hidup yang diajarkan oleh Nyanyian Kasih ini merupakan buah atau tindakan nyata dari nirkekerasan? Gaya hidup nirkekerasan adalah tidak gampang marah melainkan tahan amarah, tidak iri hati melainkan berbaik hati, tidak bergembira melihat orang lain cedera melainkan gembira melihat orang lain sejahtera, dan sebagainya. Bukankah gaya hidup ahimsa itu dipraktikkan sehari-hari oleh Tuhan Yesus?

Itulah keyakinan Mahatma Gandhi. Ahimsa ada di dalam hati dan memancar dari dalam hati. Dari hati yang bersih timbul perbuatan kasih. Dari hati yang penuh cinta timbul perbuatan sejahtera.



Disadur dari Buku Selamat Sejahtera, Andar Ismail
(2009-04-30)
Reflexion List of GKI Taman Aries
Gereja Kristen Indonesia © 2008. Design and Development by Aqua-Genesis.